Kamis, 06 September 2018

PENDIDIKAN JAMAN DAHULU DAN JAMAN SEKARANG                                                                                 Ketika saya merenungkan dan memperbandingkan pola pendidikan yang saya terima dulu dengan pola yang ada sekarang, saya merasa JIWA dan SENI ajar mengajar sudah mengalami perbedaan dan pergeseran nilai. Berbincang dengan teman-teman lain yang entah berperan sebagai orang tua, pengamat pendidikan atau lainnya, mereka juga merasakan perbedaan itu. Dampak dari semua itu adalah perilaku anak yang dinilai beda dengan perilaku jaman kita di usia yang sama. Kalau mau dinilai secara objektif, tentu saja ada sisi positif dan sisi negatif.
Sebuah peribahasa Latin yang berbunyi “Non scholae sed vitae discimus” dapat diterjemahkan sebagai kita belajar bukan untuk nilai sekolah, namun demi nilai kehidupan. Artinya di sini adalah tujuan utama dari sekolah bukanlah demi nilai yang tinggi atau demi orang tua, diri sendiri atau guru/sekolah, namun yang ingin dicapai dengan bersekolah adalah mendapat manfaat (baca: ilmu) yang bisa dipergunakan dalam hidup.
Perbedaan pendidikan jaman dulu dan jaman sekarang saya perbandingkan dari sisi:
  • Orientasi pendidikan
  • Institusi pendidikan
  • Tenaga pendidik
  • Materi pendidikan
Note: Sebagai catatan jaman dulu yang dimaksud adalah sekitar tahun 1950 – tahun 1980-an.
ORIENTASI PENDIDIKAN
Orientasi Pendidikan Jaman Dulu
Pada awalnya pendidikan dimaksudkan untuk mendidik benih manusia agar anak manusia ini tumbuh menjadi seorang yang berakhlak tinggi dan mulia, yang berbeda dengan manusia purba. Investasi manusia di sini berarti memanusiakan manusia, yaitu mengajarkan nilai kehidupan kepada seorang anak manusia, yang diibaratkan benih manusia. Misi utama lembaga pendidikan adalah mengajarkan budi pekerti, etika, saling mengalah dan mendulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Setelah itu institusi dan tenaga pendidik baru akan mengajarkan keterampilan yang membuat benih manusia itu mampu menyokong hidupnya sendiri di masa depan.
Orientasi Pendidikan Jaman Sekarang
Pendidikan sekarang lebih berorientasi kepada bagaimana meningkat kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana menghadapi persaingan. Pendidikan sekarang kehilangan misi utamanya untuk investasi karakter manusia.Pendidikan moral dan karakter bukan lagi merupakan faktor utama seorang anak mengenyam pendidikan. Kedua hal ini dianggap menjadi tugas para tokoh agama, tugas orang tua atau wali di rumah. Sekolah berlomba menonjolkan kurikulum yang dipercaya bisa menciptakan generasi muda super dari usia sedini mungkin. Para orang tua juga tergiur dan ingin anaknya menjadi “super kid.” Kata teman-teman saya: “Biar pensiun muda!”
INSTITUSI PENDIDIKAN
Institusi Pendidikan Jaman Dulu
Jaman dulu sekolah didirikan oleh pemerintah atau para misionaris dan pemuka agama. SD Negeri, SMP Negeri, SMA Negeri adalah judul sekolah yang didirikan dan beroperasi atas anggaran Departemen Pendidikan. Para misionaris yang awalnya berasal dari Belanda melalui misi penyebaran agama Kristiani juga mendirikan sekolah sebagai wujud pelayanan, di samping mendirikan rumah sakit. Madrasah-madrasah, tsanawiyah-tsanawiyah juga berdiri dan dikelola oleh pemuka agama dan mesjid.
Karena misi utama mereka adalah pelayanan dan kembali kepada orientasi pendidikan yang diemban, maka sekolah dalam hal ini tidak mengejar keuntungan secara materi. Pada jaman dulu memang ada perbedaan biaya juga, yaitu antara sekolah favorit dan sekolah yang tidak begitu unggul. Orang tua juga berupaya agar anaknya bisa masuk sekolah favorit, walaupun harus mengeluarkan dana lebih banyak.
Institusi Pendidikan Jaman Sekarang
Jaman sekarang orang pribadi, yayasan atau perusahaan swasta boleh mendirikan institusi pendidikan. Hal ini membuat misi utama sebuah institusi pendidikan tidak lagi murni untuk pelayanan sosial, namun orang atau yayasan atau perusahaan yang mendirikan lembaga pendidikan tersebut akan memperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan. Ini berarti sebuah sekolah atau lembaga pendidikan adalah suatu investasi. Agar mempunyai daya saing satu dengan lainnya, masing-masing menghadirkan kelebihan yang tidak dimiliki sekolah tradisional yang sudah ada, misalnya dari segi kurikulum, sarana pendidikan, tenaga pengajar asing dsb.
TENAGA PENDIDIK
Tenaga Pendidik Jaman Dulu
Pada jaman ini seseorang memilih menjadi guru lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk membaktikan diri. Ia memahami konsekuensi menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar bahwa ia tidak akan kaya seperti seorang pengusaha. Di era 1980-n seorang guru yang mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah, itu adalah pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil lading orang tua murid. Maka di jaman itu kita sering mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
Guru pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung.Guru juga punya hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah.Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi social masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.
Tenaga Pendidik Jaman Sekarang
Perekrutan tenaga pendidik sekarang (baca: Mayoritas) lebih mengutamakan nilai kelulusan dan sertifikasi yang dimiliki guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar dengan kelulusan yang bernilai tinggi dan banyaknya sertifikat yang dimiliki? Belum tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi dan porensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2 tahun juga meminta bukti berupa sertifikat yang dimiliki guru tersebut sebagai bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Bisa dimaklumi karena media apapun sekarang berlomba menawarkan barang konsumsi. Guru juga seorang manusia, ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.
Cara mendidik guru sekarang juga sangat jarang menggunakan pendekatan pribadi lagi. Wibawa seorang guru tidak lagi dianggap sebagai pihak otoriter yang mesti disegani, dipanuti. Murid menganggap guru mengajar hanya menjalankan kewajiban, interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah. Masyarakat sekarang yang lebih mengarah ke individualis, terutama di kota-kota besar, membuat interaksi personal semakin berkurang. (Sekali lagi maaf…ini kecenderungan yang terlihat menonjol di masyarakat kita). Apakah hal ini merupakan efek domino dari tuntutan jaman atau sistem pemerintahan kita dalam menyusun kurikulum?
MATERI PENDIDIKAN
Materi Pendidikan Jaman Dulu
Kurikulum atau materi pendidikan jaman dulu lebih menekankan pada pembentukan nurani seorang anak, penumbuhan dan penguatan karakter yang kelak membuatnya mampu membedakan mana yang baik dan benar, untuk kemudian mengutamakan keadilan, kedamaian, harkat dan martabat manusia terlepas dari perbedaan suku, agama, ras dan budaya. Terlepas suatu sekolah itu sekolah favorit atau tidak, mereka punya kurikulum yang sama.Selolah tidak terbagi menjadi sekolah nasional, sekolah nasional plus, sekolah internasional. Materi yang diajarkan kepada siswa di setiap propinsi sama, kalaupun berbeda tidak terdapat kesenjangan yang mencolok mata.
Materi Pendidikan Jaman Sekarang
Jaman sekarang status sekolah terbagi menjadi menjadi sekolah nasional, sekolah nasional plus, sekolah internasional. Ada istilah diakui, terakreditasi dll. Kurikulum yang digunakan juga berbeda satu dengan lainnya. Ada sekolah yang menggunakan kurikulum Cambridge, ada yang menggunakan kurikulum Montessori, dan lain-lain. Penonjolan keunggulan juga terlihat dari banyaknya jam pengajaran suatu mata pelajaran tertentu, misalnya ada sekolah yang bahasa pengantarnya Inggris, Mandarin. Ironisnya bahasa Indonesia hanya diberikan satu jam per minggu. Bagaimana menanamkan semangat nasionalisme dan kebangsaan bila sejak kecil seorang anak diajari bahwa bahasa yang lebih bergengsi dan diterima di dunia internasional itu adalah bahasa selain bahasa Indonesia?
Di samping itu penekanan tujuan sekolah dititikberatkan pada cara-cara untuk meningkatkan kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana mempersiapkan siswa menghadapi persaingan global di masa depan.
KESIMPULAN
Setiap jaman mempunyai masalah dan situasi yang berbeda. Sangat naif bila kita sekarang memaksakan kurikulum yang ada pada pendidikan jaman dulu diterapkan pada kurikulum sekarang. Ibarat pada tahun 1960-an orang begitu bangga mengenakan celana panjang model cut-bray, tidak mungkin kita menuntut remaja sekarang juga memakai model yang sama. Mereka akan terlihat aneh di mata remaja lain yang mengikuti perkembangan model legging jaman sekarang.
Itu soal pakaian, tentunya beda sekali dengan pendidikan dan kurikulum yang up-to-date untuk mengembangkan potensi seorang anak manusia. Lantas kurikulum seperti apa yang ideal? Pola seperti apa yang ingin kita tanamkan kepada anak Indonesia?
Menurut saya bila seseorang memutuskan memilih berprofesi sebagai seorang guru hendaklah dirinya juga berpikir, bersikap dan berperilaku seperti seorang guru. Ada pesan dari seorang dosen saya yang berkata: “Ketika kita menghukum anak didik, kita juga sedang menghukum diri sendiri.”
Artinya, bila murid melakukan kesalahan maka guru juga punya andil dalam kesalahan tersebut, dan murid akan mempunyai respek bila guru tersebut berada di sampingnya dalam mengkoreksi kesalahan tersebut. Ketika murid dihukum menulis ulang esainya, guru duduk mendampinginya. Guru juga merasakan apa yang dialaminya. Anak akan segan dan respek pada orang yang mampu menyelami apa yang dirasakannya.
Saya pribadi juga berharap kurikulum yang akan disusun pada tahun 2013 mampu mengembalikan kurikulum ke tujuan pendidikan yang utama, yakni: “Non scholae sed vitae discimus”, yaitu kita belajar bukan untuk nilai sekolah, namun demi nilai kehidupan. Semoga kurikulum yang baru berisi elemen-elemen pendidikan yang essensial.
ELEMEN PENDIDIKAN ESSENSIAL
Pendidikan terhadap seorang anak mencakup beberapa segi atau elemen, yang masing-masing harus ditanamkan kepada anak dalam porsi yang proporsional, agar kelak mereka bisa mempunyai keseimbangan di antara berbagai elemen tersebut. Elemen-elemen itu sengaja tidak saya urutkan karena semuanya sama penting!
Pendidikan seorang anak seyogyanya mencakup bidang:
  • Ilmu Pengetahuan
  • Karakter
  • Kesenian / Budaya
  • Spiritual / keagamaan.
  • Kreativitas
Semua aspek tersebut diperlukan untuk mendidik dan membina seorang anak agar menjadi seorang insan yang berpengetahuan dan kreatif, mencintai bangsa, berhati nurani dan bijaksana.Anak Indonesia juga harus mempunyai keterampilan, kompetensi seperti anak-anak di negara lain. Sekarang sudah jaman globalisasi, tentulah anak juga perlu kreativitas menciptakan peluang untuk kehidupan yang lebih baik. Kreativitas itu mencakup kreatif dalam berpikir, kreatif dalam bertindak dan kreatif dalam memprediksi hal atau masa yang akan datang.
Bila tujuan, visi dan misi sudah ditegakkan, kita perlu mencacah ke bagian lebih lanjut, yaitu bagaimana mewujudkan visi misi tersebut? Bagaimana menerapkan dan mengawasi jalannya kurikulum yang baru itu? Apa proporsi yang ideal antara meningkatkan karakter dan ilmu pengetahuan? Bagaimana agar pendidikan bisa dinikmati merata di semua kalangan? Bagaimana menentukan kriteria keberhasilan suatu pendidikan?
PENUTUP (Proses Pendidikan)
Proses pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dimulai pada saat ia dilahirkan. Hal ini berarti keberhasilan seorang anak terbentuk dari pendidikan yang diterimanya, yakni dari: keluarga, sekolah dan lingkungan atau komunitas di mana anak tersebut tumbuh (dibesarkan). Dan sifatnya adalah jangka panjang dan berkelanjutan. Anak-anak hanya akan tumbuh menjadi pribadi yang matang bila dibesarkan di lingkungan yang berkarakter, sehingga hakekat setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Dan karakter yang ini terbentuk dari suatu kebiasaan (habit) yang terus menerus dipraktekkan.
Anak belajar paling banyak dari apa yang dilihat dan didengarnya, oleh sebab itu sangat penting menempatkan anak di lingkungan yang bisa membina dan mendidik anak untuk menjadi seorang manusia yang dewasa, penuh kasih sayang, cerdas, mampu berempati dengan orang lain, jujur, bertanggung jawab dan dapat diandalkan serta berhati nurani. Sekali lagi ini berarti faktor peranan keluarga, pendidikan formal dan informal, dan komunitas sangat menentukan. Pemerintah dalam hal ini bertindak sebagai pihak otoritas hendaknya mengkaji sedalam-dalamnya aspek dari dilaksanakannya program ini, baik yang positif maupun yang negatif.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi dunia pendidikan kita.
Penulis: Ling Majaya

Kisah Kekerasan Veracruz, Lokasi Kuburan Massal di Meksiko

Eka Santhika, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 07:40 WIB

Senin, 06 Agustus 2018


DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF BERMAIN GAME





Siapa yang addicted main game? Buat para gamer, kamu perlu tahu kalo keseringan main game itu punya dampak negatif lho. Kalo kamu tahu apa dampak negatifnya, kamu bakal bisa mudah mengontrol durasi main game. Inilah 10 dampak negatif dari seringnya bermain game, Loopers :
Kurang Tidur


Biasanya kalo kamu udah asyik main game, kamu bakal mengabaikan rasa kantuk. Jadilah kamu terlalu asyik memainkan sebuah permainan, terus waktu tidurmu bakal berkurang deh.




Malas Mandi


Kalo udah pewe di depan PC atau laptop, kamu bakal malas bergerak ke mana-mana kan? Akibatnya, kamu jadi nggak dengar suruhan mama buat mandi deh. Nggak cuma itu, kalo kamu habis makan snack sambil main, sampah bekas snack itu bakal bertebaran di meja karena kamu malas buat bersih-bersih.
Mengasingkan Diri


Biasanya para gamer sering berkomunikasi sama lawan mainnya di dunia maya, tapi mereka malas bersosialisasi sama teman-teman di dunia nyata. Soalnya, realita kadang nggak sesuai bayangan. #tsaah




Depresi


Ini terjadi kalo gamer udah addicted berat sama game. Kalo kamu nggak main game sehari aja, rasanya pasti ada yang mengganjal. Pokoknya, kamu merasa harus main game untuk memenuhi “kebutuhanmu” itu.




Stres


Seringkali game itu memberikan sebuah kompetisi atau persaingan yang bikin kamu cari cara untuk memenangkan game itu. Kalo nggak menang, kamu bakal coba lagi sampai kamu bisa marah-marah sendiri kenapa kalah terus. Nah, itulah penyebab stres, Loopers. Anehnya, kalo gamer udah merasa stres, cara mengatasinya dengan tetap bermain game dan melupakan waktu.




Arthritis dan Carpal Tunnel Syndrome


Arthritis adalah kelainan sendi yang meliputi peradangan, sedangkan Carpal Tunnel Syndrome adalah tekanan pada saraf di pergelangan tangan. Nah, keseringan main game bisa memperbesar kemungkinan terjangkit dua penyakit itu, Loopers. Soalnya, kalo kamu main game, jari-jari tangan kamu bakal bergerak aktif tanpa istirahat.




Kehilangan Nafsu Makan


Kayak nomor 1, para gamer jadi kehilangan nafsu makan gara-gara fokus bermain game. Kalo disuru makan, mereka malah memilih makanan cepat saji seperti mie instan yang kurang gizinya.




Agresif


Gara-gara terlalu berambisi memenangkan suatu permainan, para gamer jadi agresif dan ambisius, Loopers. Misalnya, kamu jadi marah kalo aktivitas bermain game-mu terganggu sama orang lain.




Sakit Mata


Yap, gara-gara terlalu sering menatap layar laptop atau PC, mata kamu jadi kena radiasi yang terpancar. Apalagi kalo keterusan, mata kamu bakal sakit dan buram saat melihat.




Mudah Lelah


Keseringan duduk di depan laptop atau PC bisa bikin para gamer jadi pegal-pegal. Soalnya, kamu nggak menggerakkan tubuhmu, Loopers. Begitu kamu gerakkan, badan kamu pun terasa sakit karena badanmu belum siap bergerak.






Yap, itulah 10 dampak negatif kalo kamu teralu sering bermain game, Loopers. Kalo kamu nggak mau terkena dampak-dampak itu, jangan kecanduan main game dong! Main game cukup dilakukan secukupnya di waktu luang ya, Loopers.





Sebagai orang tua tentu sangat takut jika anaknya yang sangat menyukai game terkena imbas dari dampak negatif bermain game, terlebih lagi terdapat riset yang menyebutkan bahwa bermain game memiliki dampak yang kurang baik terhadap semua kalangan tidakhanyakepadaseoranganaksaja.

Akan tetapian da sebagai orang tua tidak perlu khawatir secara berlebihan, sebab dengan bermain game sesuai dengan aturan dan pengawasan maka dampak positif yang akan diperoleh oleh anak-anak anda. Yang terpenting yang perlu anda perhatikan adalah perhatikan porsi bermain game yang anak anda lakukan.

Dan berikut ini beberapa manfaat atau dampak positif bermain game yang di dapatkan:

1.Mampu meng-koordinasi mata dan tangan

Sekarang ini banyak sekali jenis game yang sangat membantu anak dalam mengkoordinasikan antara mata dan tangannya. Salah satunya adalah game bergendre olahraga.Jadi meskipun anak anda bermain game, akan tetapi juga bisa melatih ketangkasannya dan tentunya berguna dalam melakukan aktifitas sehari-hari nantinya.

2.Melatih aktifitas fisik

Ada banyak banget jenis game yang dalam memainkannya harus menggunakan beberapa aktifitas fisik, seperti menari, bermain gitar dan semacamnya. Oleh sebabitu, disini peran orang tua dalammemilih game yang tepat untuk anak sangat diperlukan.

3.Mampu meningkatkan kemampuan belajar

Ada beberapa game yang bisa meningkatkan ketrampilan anak dalam menyelesaikan sebuah masalah dan juga membuat suatu keputusan. Dengan begitu ketrampilan kognitif seorang anak akan terus terasah.

4.Mengurangi rasa stress

Tidak hanya orang tua saja yang mengalami stress, tetapi juga seorang anak juga bisa mengalami stres ketika misalnya setelah seharian belajar. Nah kehadiran game ini sangat membantu sekali untuk menghilangkan stres tersebut.

5.Belajar kerja tim

Kemunculan game sekarang ini tidak hanya diciptakan untuk senang-senang saja, tetapi juga untuk memberikan edukasi kepadaanak-anak salah satunya adalah dengan mengajarkan anak bagaimana cara bekerja secara tim. Dan hal tersebut bisa didapatkan dari bermain game. Ada beberapa game online yang memerlukan kerjasama tim untuk memenangkan suatu permainan.Dengan begitu dampak positif bermain game juga akan didapatkan.

Masih terdapat banyak sekali dampak positif bermain game selain yang diatas diantaranya seperti mengatasi rasa sakit, membuat orang senang, sportifitas dan adil, ketrampilan sosial dan masih banyak lagi.

Untuk mendapatkan manfaat tersebut, tentu diperlukan pengawasan dari orang tua untuk membatasi bermain game seorang anak. Sehingga bisa bermain game diwaktu yang tepat.